Enam Desa di Ujung Kecamatan Teluk Pandan Bergantung pada Keberadaan WTP Flyover Indominko untuk Akhiri Krisis Air Bersih

Sabtu 22 November 2025

SANGATTA – Keberadaan pembangunan instalasi pengolahan air (water treatment plant/WTP) di sekitar Jembatan Flyover Indominko menjadi fokus perhatian Komisi C DPRD Kutai Timur. Anggota DPRD, Novel Tyty Paembonan, menekankan pentingnya pemanfaatan proyek strategis ini untuk menjawab keluhan panjang masyarakat di Kecamatan Teluk Pandan yang hingga detik ini masih bergulat dengan kesulitan memperoleh akses air bersih yang layak.

 

“Jadi kan kita lihat sekarang hari ini di dekat jembatan flyover Indominko, itu kan sedang dibangun water treatment itu. Itu nanti yang saya dengar, kan kemarin Pak Bupati juga sempat berkunjung ke sana, Pak Wakil Bupati juga sempat,” ujar Paembonan.

Lebih lanjut, Paembonan memaparkan bahwa WTP tersebut memiliki cakupan layanan yang lebih luas, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal. Infrastruktur ini direncanakan untuk menyuplai kebutuhan air bersih di Bontang dan Kutai Timur. Ekspektasinya, kehadiran fasilitas pengolahan air modern ini dapat menjadi solusi permanen bagi wilayah-wilayah yang selama bertahun-tahun mengalami krisis air, termasuk di dalamnya beberapa desa di Kecamatan Teluk Pandan.

“Nah harapan kita adalah 6 desa di kecamatan Teluk Pandan, paling tidak mulai dari ujung Danau Redan, Sukadamai, Sukarahmat, Martadinata, Teluk Pandan, bahkan kalau bisa sampai Kandolo, 6 desa itu, itu bisa teraliri,” tambahnya.

Meski demikian, optimisme tersebut masih diselimuti oleh ketidakpastian mengenai status operasional dari WTP tersebut. Paembonan mengakui bahwa dari pantauan fisik terlihat kemajuan signifikan dengan adanya pemasangan jaringan pipa distribusi. Namun, hal itu belum menjadi indikator bahwa fasilitas tersebut sudah berfungsi secara penuh dan menghasilkan air bersih yang siap dialirkan ke rumah-rumah warga.

“Memang saya lihat kemarin sudah ada pemasangan jaringan pipa, cuma saya belum tahu apakah memang WTP itu sudah berproduksi, itu persoalannya. Saya belum pantau nih, maksudnya apakah sudah menghasilkan air bersih yang WTP ini,” katanya.

Komitmennya untuk mendorong pemenuhan hak dasar masyarakat pun ditegaskan. Paembonan menyatakan kesiapannya untuk mengambil langkah lebih lanjut jika nantinya terbukti instalasi tersebut sudah beroperasi tetapi layanan air bersih belum juga dinikmati oleh masyarakat di enam desa yang dimaksud. Ia menegaskan peran legislatifnya sebagai pengawas dan penyalur aspirasi masyarakat untuk memastikan tidak ada yang tertinggal dalam memperoleh akses terhadap air bersih.

“Nah kalau itu sudah menghasilkan dan ada masyarakat di situ yang belum dapatkan layanan air bersih, tolong kita diingatkan supaya kita juga akan push ke sana bagaimana masyarakat mendapatkan juga hak untuk mendapatkan kebutuhan vital itu ya air bersih,” pungkas Paembonan.

Tantangan akses air bersih di Kecamatan Teluk Pandan, khususnya di enam desa yang disebutkan, merupakan persoalan mendasar yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, kebersihan, hingga kegiatan ekonomi rumah tangga. Kehadiran WTP Flyover Indominko diibaratkan sebagai jantung harapan baru. Proyek ini tidak hanya sekadar membangun infrastruktur fisik, tetapi juga mengusung janji untuk mengalirkan kualitas hidup yang lebih baik.

Pembangunan yang telah menarik kunjungan dari pimpinan daerah ini diharapkan dapat segera direalisasikan fungsinya secara maksimal. Transparansi mengenai progres operasional dan timeline penyaluran air kepada masyarakat menjadi kunci untuk meredakan kecemasan warga. Pengawalan yang konsisten dari berbagai pihak, termasuk DPRD, sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa investasi publik ini benar-benar terwujud dalam bentuk tetesan air jernih yang mengalir lancar ke setiap keran warga, mengakhiri penantian panjang mereka terhadap sebuah hak dasar yang seharusnya sudah lama mereka terima. (adv/*)