Kamis 15 Agustus 2024
Oleh : Julia Handayani
Mahasiswi UMN Al-Washliyah
PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax di seluruh SPBU Pertamina pada Sabtu 10 Agustus 2024, pukul 00.00 waktu setempat. Kenaikan harga Pertamax yang adalah BBM RON 92 ini menjadi Rp 13.700 per liter (harga untuk wilayah dengan PBBKB 5%) dari sebelumnya Rp 12.950 per liter.
Pjs Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari menjelaskan, kenaikan harga BBM Non Subsidi Pertamina Patra Niaga mengacu pada tren harga rata-rata publikasi minyak dunia atau ICP dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika (USD).
Penyesuaian harga BBM Non Subsidi telah dilakukan oleh seluruh badan usaha sejak awal bulan Agustus 2024. Salah satu alasan kenaikan harga BBM adalah karena pergerakan harga minyak dunia yang sedang mengalami kenaikan.
Indonesia sebagai negara net importir tentu akan sangat terpengaruh oleh harga minyak dunia. Apalagi perdagangan minyak dunia menggunakan standar mata uang asing sehingga stabilitas harga akan sulit dikendalikan.
Dampak kenaikan BBM tentu akan sangat dirasakan oleh semua pihak sebab BBM digunakan oleh berbagai macam industri. Kenaikan BBM akan memperbesar ongkos produksi. Agar ongkos produksi tidak terlalu membengkak, dilakukanlah PHK atau pemangkasan upah pada para buruh.
Terlebih lagi kenaikan BBM membuat tingkat inflasi semakin naik yang dimana harga kebutuhan semakin mahal sedangkan pendapatan masyarakat yang menurun. Sayangnya, dengan kondisi seperti ini pemerintah seolah tidak berdaya menghadapinya.
Apa sesungguhnya akar persoalannya dan bagaimana agar rakyat bisa mendapatkan BBM murah? Padahal jika kita telusuri, Indonesia adalah satu dari sekian negara yang memiliki cadangan migas melimpah di dunia.
Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) mencatat potensi minyak di Indonesia mencapai 4,2 miliar barel. Sayangnya, banyak dari lapangan migas belum tereksploitasi, khususnya di laut-laut lepas karena biaya eksplorasi dan eksploitasi yang begitu besar.
APBN yang selalu defisit tidak mampu menanggungnya. Andai saja eksplorasi dan eksploitasi bisa mandiri, kebutuhan BBM dalam negeri bisa terpenuhi.
Namun, dengan adanya liberalisasi migas menjadikan swasta yang menguasai hulu hingga hilir pengelolaan migas.
Jika sudah dikuasai swasta, keuntungan tidak akan mengalir pada kas negara. Terbukti, pemasukan APBN dari pengelolaan SDA sangat kecil. Dalam hal naiknya BBM non subsidi sudah jelas hal ini merupakan buah sistem kapitalisme yang menjadikan negara sebagai regulator.
Konsekuensinya terjadi liberalisasi dalam pengelolaan SDA yang membuka peluang investor untuk mengelolanya. Pengelolaan demikian hanya menguntungkan para kapital dan merugikan rakyat yang sejatinya pemilik SDA tersebut.
Liberalisasi migas adalah konsekuensi diterapkannya sistem ekonomi kapitalisme di dunia. Sistem ekonomi ini menjadikan negara adidaya berkuasa atas segala sesuatu.
Harga minyak mentah dunia yang begitu fluktuatif mempengaruhi harga minyak dunia saat ini, bukan hanya permintaan dan penawarannya, tetapi juga spekulasi di pasar komoditas berjangka.
Bahkan, permainan di komoditas pasar ini yang dianggap paling menentukan. Belum lagi faktor suku bunga, kenaikan harga minyak dunia kali ini pun tidak bisa dilepaskan dari kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.
Perdagangan minyak dunia menggunakan standar mata uang Dolar AS sehingga jika suku bunga the fed dinaikkan, nilai tukar rupiah menjadi anjlok. Inilah yang akan makin menaikkan harga minyak dunia.
Kita telah mengetahui buruknya sistem ekonomi kapitalisme, solusi dari perekonomian di negeri kita hari ini adalah dengan beralihnya kita ke dalam penerapan sistem Islam. Sistem islam menjalankan ekonomi Islam akan memposisikan negara sebagai pengurus (raa’in) rakyatnya.
Negara wajib memenuhi kebutuhan primer rakyat (sandang, pangan, dan papan) individu per individu serta pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai kadar kemampuannya sebagai individu yang hidup dalam masyarakat tertentu.
Dengan konsep kepemilikan Islam, sumber daya alam akan dikelola negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat dalam berbagai bentuk layanan negara atas rakyat.
Harga BBM pun dalam kendali negara sehingga rakyat tidak akan menderita dengan perubahan harga minyak dunia.
Negara islam dengan Baitul malnya, yang memiliki sumber penerimaan beragam akan mampu menjaga kestabilan harga sehingga rakyat tidak terkena dampak buruk perubahan harga minyak dunia. Wallahu’alam.